Metronews

Risiko Keselamatan Diabaikan, Gubernur Jambi Ungkap Dilema di Balik Tambang Emas Ilegal

0

0

jambidalamberita |

Kamis, 22 Jan 2026 09:00 WIB

Reporter : Yudi

Editor : Yudi

Gubernur Jambi, Al Haris.  ist - (Jambidalamberita.id)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

Jambidalamberita.id, Jambi – Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi menjadi alasan utama masyarakat tetap nekat melakukan penambangan emas ilegal meski sadar akan risiko keselamatan yang mengintai.

Menurut Al Haris, praktik penambangan dengan sistem penggalian vertikal atau dikenal sebagai “lubang jarum” kerap menelan korban jiwa karena tingkat bahayanya sangat tinggi, terlebih saat kondisi cuaca ekstrem dan curah hujan meningkat.

Ia menuturkan, pemerintah sebenarnya telah berulang kali mengingatkan dan melarang aktivitas penambangan berisiko tersebut. Namun kebutuhan hidup membuat sebagian warga mengesampingkan keselamatan demi mendapatkan penghasilan lebih besar.

“Ini persoalan pelik. Mereka mencari nafkah untuk keluarga, tapi tidak memikirkan dampak dan risiko yang bisa merenggut nyawa,” ujar Al Haris di Jambi, Rabu.

Baca Juga:

Tragedi di Jambi 8 Nyawa Melayang! Walhi: Tambang Ilegal yang Jadi Bom Waktu Bagi Lingkungan

Gubernur menjelaskan, pemerintah daerah tidak melarang masyarakat mencari emas secara tradisional, seperti mendulang di sungai yang risikonya relatif lebih kecil. Sayangnya, metode tersebut dianggap kurang menjanjikan dibandingkan hasil dari penggalian tanah secara dalam.

Menurutnya, pilihan ekonomi jangka pendek sering kali membuat masyarakat mengambil jalan yang berbahaya, meskipun konsekuensinya fatal.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul peristiwa longsor di lokasi tambang emas ilegal di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun.

Dalam kejadian itu, belasan penambang tertimbun material longsor. Hingga Rabu (21/1), tim gabungan berhasil mengevakuasi 12 orang, dengan delapan korban ditemukan meninggal dunia dan empat lainnya mengalami luka-luka.

Proses evakuasi melibatkan aparat kepolisian, Brimob, BPBD, Satpol PP, serta unsur terkait lainnya. Sebagian besar korban diketahui merupakan warga setempat dan desa-desa di sekitar lokasi tambang.

Hingga kini, tim masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun longsoran tanah. (*)

 

 

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER