“Jika lifting meningkat, maka dana bagi hasil daerah juga akan meningkat dan bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur serta pelayanan publik,” jelasnya.
Selain memperjuangkan penguatan fiskal daerah, Al Haris juga mendorong optimalisasi sumur tua, sumur masyarakat, serta idle field sebagai sumber produksi baru untuk meningkatkan lifting minyak nasional.
Menurutnya, pengelolaan sumur-sumur tersebut membutuhkan kebijakan yang adaptif serta kemitraan sehat antara pemerintah, investor, dan masyarakat.
Sorotan utama lainnya dalam Rakernas ADPMET 2026 adalah pengembangan modular refinery atau kilang mini di kawasan mulut tambang. Al Haris menilai keberadaan kilang mini dapat menjadi solusi strategis dalam memperkuat hilirisasi energi di daerah.
“Daerah jangan hanya menjadi lokasi eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga harus menjadi pusat pertumbuhan energi baru dan industri hilir,” tegasnya.
Ia menyebut, pengembangan kilang mini tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah migas, tetapi juga membuka peluang investasi, menyerap tenaga kerja lokal, serta memperkuat perekonomian daerah.
Gubernur Al Haris juga mengajak semua anggota perjuangkan hak seperti tambahan DBH transisi energi, alokasi gas daerah, hak kelola sumur tua, serta insentif karbon capture—didukung komitmen iuran anggota.
Melalui ADPMET, lanjutnya, daerah penghasil migas harus memiliki posisi tawar lebih kuat dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi hijau.
“Jambi siap meningkatkan lifting minyak, mengembangkan energi terbarukan, serta melibatkan UMKM dan Bank Jambi dalam rantai pasok sektor energi. Dengan dukungan semua pihak, kami optimistis Jambi mampu menjadi motor penggerak ekonomi hijau di tengah dinamika geopolitik dunia,” pungkas Al Haris.