Jambidalamberita.id, SENGETI – Gubernur Jambi Al Haris mengapresiasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Wanita Tani merupakan mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian demi mewujudkan swasembada pangan, ketahanan pangan, hingga kedaulatan pangan di Provinsi Jambi.
Hal tersebut disampaikan Al Haris saat mendampingi Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia Sudaryono menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI Provinsi Jambi dan DPD Wanita Tani Provinsi Jambi di Lapangan Depan Kantor Bupati Bukit Cinto Kenang, Kabupaten Muaro Jambi, Selasa (21/4/2026).
Menurut Al Haris, keberadaan organisasi tani memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui se8ktor pertanian.
“HKTI dan Wanita Tani adalah kekuatan besar yang menjadi mitra pemerintah dalam membangun pertanian. Saya berharap kepengurusan baru dapat bekerja maksimal untuk meningkatkan hasil pertanian dan ketahanan pangan di Jambi,” ujar Al Haris.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Al Haris memaparkan capaian sektor pertanian Jambi yang terus menunjukkan perkembangan positif. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada Maret 2026 tercatat 178,39, naik 1,11 persen dibanding Februari 2026 sebesar 176,42.
Sementara Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada Maret 2026 berada di angka 184,26, meningkat 1,01 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar 182,43.
Ia menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh pihak, termasuk petani, pemerintah daerah, HKTI, dan Wanita Tani.
“Hari ini ekonomi Jambi tumbuh 4,93 persen, termasuk salah satu yang terbaik di Sumatera. Nilai tukar petani juga terus naik. Ini bukti kerja keras bersama,” katanya.
Al Haris juga menyampaikan bahwa luas sawah di Provinsi Jambi terus mengalami peningkatan. Pada 2025 terjadi penambahan lahan sawah sekitar 12 ribu hektare, dan pada 2026 pemerintah menargetkan luas tanam mencapai 126 ribu hektare.
Bahkan, produksi padi Jambi disebut mengalami peningkatan tertinggi di Pulau Sumatera, yakni mencapai 30,7 persen.
Meski demikian, ia mengakui tantangan masih ada, terutama alih fungsi lahan pertanian. Namun saat ini minat petani kembali meningkat setelah adanya kebijakan harga gabah yang menguntungkan.
“Dengan harga gabah minimal Rp6.500 per kilogram dan penyerapan Bulog yang semakin baik, petani kini kembali tertarik menggarap sawah,” jelasnya.