Jambidalamberita.id, MUARO JAMBI – Minimnya intensitas hujan sejak awal tahun 2026 mulai berdampak pada meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sebanyak 28 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kabupaten Muaro Jambi.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jambi menunjukkan, sepanjang Januari 2026 terpantau 24 hotspot di Kecamatan Kumpeh Ulu berdasarkan sensor MODIS dari satelit Terra dan Aqua. Sementara pada dasarian pertama Februari, kembali terdeteksi empat titik panas di kawasan yang sama.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jambi, Sri Utami Widyastuti, menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan kemunculan hotspot tersebut berada di kisaran 70 hingga 80 persen. Angka ini mengindikasikan dugaan kuat adanya aktivitas pembakaran lahan.
Menurutnya, berkurangnya curah hujan selama Januari hingga awal Februari menyebabkan kondisi lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Situasi ini meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Sampai pagi tadi masih terpantau tiga titik hotspot di Kumpeh Ulu dengan tingkat kepercayaan sekitar 80 persen. Beberapa hari sebelumnya juga muncul titik panas di wilayah tersebut. Indikasi yang terlihat mengarah pada aktivitas pembakaran, termasuk kemungkinan berkaitan dengan sumur bor minyak,” ujarnya.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Selain melanggar ketentuan hukum, praktik tersebut berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Dengan total 28 hotspot yang terpantau sejak awal tahun, kondisi ini dinilai sebagai peringatan dini. Upaya pencegahan serta pengawasan di lapangan perlu ditingkatkan guna mengantisipasi terulangnya bencana kabut asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. (*)