Jambidalamberita.id, Sarolangun – Pelaksanaan pembangunan jalan rigit beton yang bersumber dari Dana Desa Tahun 2025 di Desa Taman Bandung, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, menuai keluhan dari tokoh masyarakat. Proyek yang seharusnya rampung sepanjang ratusan meter itu dinilai belum terealisasi sesuai rencana.
Tokoh masyarakat setempat, Darmawi, mengungkapkan bahwa berdasarkan perencanaan awal, jalan rigit beton tersebut akan dibangun sepanjang 300 meter dengan lebar tiga meter dan ketebalan 20 sentimeter. Namun, hingga kini realisasi di lapangan dinilai jauh dari harapan.
“Faktanya yang dibangun baru sekitar 20 meter, sisanya belum dikerjakan. Alasannya karena hujan, tapi sampai sekarang belum ada kelanjutan,” ujar Darmawi, Senin (26/1).
Menurutnya, pembangunan akses jalan tersebut sangat dinantikan warga karena selama puluhan tahun kondisi jalan kerap menyulitkan aktivitas masyarakat, terutama saat musim hujan. Jalan berlumpur membuat warga kesulitan membawa hasil perkebunan dan mengganggu mobilitas harian.
“Kami tidak minta bantuan macam-macam, cukup akses jalan kami diperhatikan. Jalan ini urat nadi masyarakat,” katanya.
Tak hanya soal jalan, Darmawi juga menyoroti pengelolaan Tanah Kas Desa (TKD) seluas sekitar 5,5 hektare yang ditanami sawit sejak 2021. Ia menilai kebun tersebut tidak terawat meski telah berusia lima tahun dan disebut-sebut memiliki anggaran perawatan dari Dana Desa.
“Sampai sekarang kebun sawit itu seperti terbengkalai, ditumbuhi semak. Kami juga tidak pernah mendapat penjelasan soal pengelolaannya,” ujarnya.
Ia turut menyinggung kondisi balai desa yang dinilai kurang terawat serta aktivitas perangkat desa yang disebut tidak lagi berjalan optimal seperti sebelumnya.
Keluhan serupa disampaikan warga Desa Taman Bandung lainnya, Mela Maleva. Ia mengatakan ketidakselesaian pembangunan jalan berdampak langsung pada kehidupan warga, khususnya anak-anak sekolah.
“Kalau jalan itu selesai 300 meter, anak-anak tidak perlu lagi jalan kaki berlumpur atau pakai sandal ke sekolah. Sekarang faktanya tetap becek,” katanya.
Mela juga mengaku mendapat tekanan dan ancaman setelah menyampaikan kritik terkait proyek desa tersebut. Ia menyatakan akan melaporkan hal itu ke pihak kepolisian agar tidak terjadi intimidasi terhadap warga.
“Saya hanya ingin desa ini maju, bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Jangan sampai kritik justru dibalas dengan ancaman,” ujarnya.