Metronews

KKI Warsi Ungkap Kondisi Hutan TNKS Tergerus, Kerinci Makin Rentan Bencana hidrometeorologi

0

0

jambidalamberita |

Rabu, 14 Jan 2026 11:19 WIB

Reporter : Wahyu

Editor : Wira

Desa Air Terjun, Siulak, Kerinci, dikelilingi hutan adat penyangga TNKS yang kian terancam berkurangnya tutupan hutan. ANTARA/HO-KKI Warsi - (Jambidalamberita.id)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

 

Jambidalamberita.id, Jambi – Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mengungkap kondisi bentang alam Kerinci yang kian mengkhawatirkan.
 
Hasil analisis lanskap menunjukkan kawasan tersebut semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat maraknya perambahan di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
 
Manajer Program Komunikasi dan Informasi KKI Warsi, Rudi Syaf, menjelaskan bahwa pengolahan citra tiga dimensi memperlihatkan perubahan signifikan di kawasan penyangga taman nasional.
 
Area yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung ekosistem kini banyak beralih menjadi lahan garapan masyarakat.
 
“Pinggiran TNKS sudah tidak lagi utuh. Tutupan hutan menurun drastis karena pembukaan lahan,” kata Rudi di Jambi, Selasa (13/1).
Menurutnya, aktivitas tersebut tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi menyebar luas mulai dari punggungan Gunung Kerinci, Bukit Barisan bagian selatan, wilayah Solok Selatan di Sumatera Barat, hingga kawasan yang berbatasan dengan Bengkulu. Kondisi ini dinilai berbahaya, terutama bagi permukiman yang berada di daerah lembah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
 
KKI Warsi mencatat ratusan anak sungai berhulu di kawasan perbukitan TNKS dan bermuara ke lembahan Kerinci hingga Danau Kerinci. Ketika hujan lebat terjadi, air dengan cepat melimpas ke wilayah padat penduduk.
 
“Banjir yang kerap terjadi bukan tanpa sebab. Hutan yang semestinya menyerap air justru berubah menjadi kebun,” ujarnya.
 
Selain alih fungsi hutan, KKI Warsi juga menemukan perambahan yang berkembang menjadi pemukiman, khususnya di perbatasan Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Bungo.
 
Aktivitas ini disebut melibatkan pendatang dari berbagai daerah.
Ancaman semakin serius dengan adanya pembukaan lahan untuk pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang diduga makin meluas di dalam kawasan TNKS.
 
“Bukit-bukit yang seharusnya menjadi benteng terakhir kini rusak. Jika dibiarkan, banjir dan longsor hanya soal waktu,” tegas Rudi.
 
KKI Warsi mendorong adanya penanganan tegas dan kolaboratif agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas dan keselamatan masyarakat di sekitar TNKS dapat terlindungi. (*)

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER