“Kalau satu petani memiliki 10 petak, tinggal dikalikan saja,” ujarnya.
DPRD Soroti Kerusakan DAS Batanghari
Anggota DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata, menilai persoalan pencemaran Sungai Batanghari merupakan akumulasi kerusakan lingkungan dari kawasan hulu hingga hilir.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya disebabkan aktivitas pertambangan emas ilegal, tetapi juga pembuangan limbah rumah tangga, sampah, limbah industri hingga abrasi yang diperparah minimnya gerakan penghijauan.
Ivan juga mengungkapkan adanya laporan mengenai tingginya tingkat kekeruhan air baku yang digunakan perusahaan air minum.
Berdasarkan pengukuran tingkat kekeruhan menggunakan satuan Nephelometric Turbidity Unit (NTU), kekeruhan air baku disebut telah mencapai 1.400 NTU.
Angka tersebut melonjak hampir empat kali lipat dibandingkan batas normal yang berada di kisaran 250-300 NTU.
Kondisi itu, menurut Ivan, harus menjadi perhatian serius pemerintah. Ia mendorong adanya langkah strategis dan terpadu untuk menyelamatkan Sungai Batanghari dengan melibatkan berbagai sektor.
Ivan juga mendorong agar Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga pemerintah pusat dapat terlibat lebih besar dalam upaya pemulihan dan pelestarian sungai.
“Ikan yang mati di keramba hanya contoh gejala di permukaan. Masalah sebenarnya ada pada kerusakan ekosistem di bagian hulu yang harus dibenahi,” jelas Ivan.
Ia menilai penyelamatan DAS Batanghari bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat.
“Jika DAS Batanghari diselamatkan, sungai ini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi investasi besar yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.