JAMBIDALAMBERITA.ID, MUARO JAMBI – Puluhan ton ikan milik petani keramba di lima desa wilayah Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, dilaporkan mati. Kematian ikan tersebut diduga berkaitan dengan pencemaran air Sungai Batanghari.
Petani keramba di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Musa Yusuf mengatakan, ikan yang mati merupakan bagian terbesar dari ikan yang mereka budidayakan.
“Jumlahnya banyak, paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati,” kata Musa, Minggu.
Menurut Musa, fenomena kematian ikan semakin meningkat dalam tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan menyusutnya debit air Sungai Batanghari akibat musim kemarau.
Ia menduga penurunan debit air membuat kondisi perairan semakin buruk. Selain itu, Musa menduga pencemaran juga berkaitan dengan limbah beracun, termasuk merkuri, yang berasal dari aktivitas pertambangan emas di bagian hulu Sungai Batanghari.
“Kami berharap pemerintah memikirkan persoalan ini. Jangan sampai petani ikan di sepanjang aliran Sungai Batanghari ikut menjadi korban dari aktivitas pertambangan emas ilegal,” ujarnya.
Ribuan Keramba TerdampakMusa menjelaskan, Kecamatan Jaluko merupakan salah satu sentra produksi ikan air tawar di Provinsi Jambi. Aktivitas budidaya ikan keramba tersebar di sejumlah desa, di antaranya Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut dan Pematang Jering.
Para petani memanfaatkan aliran Sungai Batanghari untuk membudidayakan berbagai jenis ikan air tawar, terutama ikan mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus).
Besarnya jumlah keramba membuat dampak kematian ikan diperkirakan mencapai puluhan ton setiap bulan.
“Untuk Kecamatan Jaluko saja mungkin ada puluhan ton ikan mati setiap bulan, karena di daerah ini ada ribuan keramba,” katanya.
Ia memberikan gambaran, dari sekitar 8.000 ekor ikan yang ditebar dalam satu petak keramba, hanya sekitar 800 hingga 900 ekor yang mampu bertahan hidup.