Jambidalamberita.id, BATANG HARI — Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, saat Bupati Batang Hari, Muhammad Fadhil Arief, melaksanakan Salat Iduladha 1447 Hijriah bersama masyarakat di Masjid Assuhada, Rabu pagi (27/5/2026).
Gema takbir yang berkumandang sejak pagi menjadi penanda datangnya hari raya kurban, sekaligus mempererat hubungan antara pemimpin daerah dan masyarakat. Kehadiran Bupati bukan sekadar menghadiri agenda seremonial keagamaan, melainkan menunjukkan kedekatan pemerintah dengan rakyat di momentum penuh makna tersebut.
Dalam pelaksanaan salat Id, suasana tampak begitu hangat dan sederhana. Tidak terlihat batas antara pejabat dan masyarakat. Seluruh jamaah larut dalam kekhusyukan ibadah sebagai umat yang sama-sama mengharap ridha Allah SWT.
Turut mendampingi Bupati dalam kegiatan tersebut, Bunda Zulva Fadhil, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur Forkopimcam Maro Sebo Ilir, personel Satlantas Polres Batang Hari, perwakilan Polsek Maro Sebo Ilir yang diwakili IPDA Rudi Sugara, S.H., Satpol PP, Dinas Perhubungan, hingga ratusan warga dari berbagai desa di wilayah sekitar.
Salat Iduladha dipimpin oleh imam sekaligus khatib, Ustaz Abi Mahbubi. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan pesan mendalam tentang makna sejati Iduladha. Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai simbol pengorbanan sifat buruk dalam diri manusia.
“Iduladha mengajarkan manusia untuk menyembelih kesombongan, kerakusan, serta segala sifat yang menjauhkan diri dari ketakwaan,” ujar Ustaz Abi Mahbubi di hadapan jamaah.
Ia juga mengutip Surah Al-A’la ayat 18–19 yang menegaskan bahwa nilai-nilai tauhid dan kehidupan akhirat telah diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS. Sementara Surah At-Tin menjadi pengingat bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, namun dapat terjatuh pada derajat paling rendah apabila meninggalkan iman dan amal saleh.
Dalam tausiyahnya, masyarakat diajak menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial, mempererat persaudaraan, dan membangun keikhlasan dalam kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Ustaz Sulaiman. Kebersamaan semakin terasa saat masyarakat, tokoh agama, dan tamu undangan menikmati makan bersama di halaman Masjid Assuhada sebelum pelaksanaan pemotongan satu ekor sapi kurban.
Momentum Iduladha di Desa Terusan itu menjadi gambaran bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik dan kebijakan pemerintahan, tetapi juga melalui kedekatan pemimpin dengan masyarakat serta kuatnya nilai keimanan yang hidup di tengah rakyat.