Lebih jauh, TTG membuka ruang inklusivitas. Hilirisasi tidak lagi menjadi domain industri besar, tetapi dapat dilakukan oleh kelompok tani, usaha mikro, hingga rumah tangga. Transformasi ekonomi tidak bersifat eksklusif, melainkan tumbuh dari bawah secara bertahap dan berkelanjutan.
Namun demikian, hilirisasi tidak boleh berhenti pada tahap sederhana. Ia harus berkembang menuju integrasi dengan inovasi modern. Digitalisasi pemasaran, peningkatan standar mutu, penguatan rantai pasok, hingga integrasi dengan industri skala menengah menjadi tahapan lanjutan yang tidak terelakkan.
Dalam konteks ini, peran pemerintah daerah menjadi sangat menentukan. Kebijakan yang mendorong pelatihan teknologi, akses pembiayaan, serta pembangunan infrastruktur logistik akan menjadi faktor kunci keberhasilan. Tanpa dukungan kebijakan yang terarah, potensi besar yang dimiliki daerah hanya akan menjadi angka statistik tanpa daya dorong ekonomi.
Secara geografis, posisi Jambi yang berada di tengah Pulau Sumatra memberikan keunggulan strategis dalam distribusi pangan. Dengan penguatan hilirisasi, Jambi berpotensi berkembang dari sekadar daerah produksi menjadi simpul pengolahan dan distribusi pangan regional. Peran ini akan memperkuat stabilitas pasokan, mengurangi disparitas harga antarwilayah, dan menekan ketergantungan terhadap pasokan dari luar kawasan.
Pada titik ini, ketahanan pangan tidak lagi dapat dimaknai semata-mata sebagai kemampuan memproduksi. Ketahanan pangan adalah kemampuan mengelola produksi menjadi nilai tambah, menjaga stabilitas, dan memastikan akses yang merata. Hilirisasi menjadi jembatan yang menghubungkan semua dimensi tersebut.
Transformasi menuju hilirisasi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia justru tumbuh dari hal-hal sederhana: dari cabai yang diolah, dari buah yang dikemas, dari teknologi kecil yang bekerja secara konsisten di tingkat desa. Dalam akumulasi jangka panjang, praktik-praktik sederhana ini membentuk fondasi ekonomi yang lebih kuat.
Jambi memiliki seluruh prasyarat untuk itu—basis sumber daya yang kuat, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta posisi geografis yang strategis. Tantangannya bukan pada ketersediaan potensi, melainkan pada keberanian untuk mengubah cara pandang: dari sekadar memproduksi menjadi mengelola, dari menjual mentah menjadi menciptakan nilai.
Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak dibangun oleh retorika besar, melainkan oleh keberanian mengambil langkah konkret. Dan sering kali, langkah paling menentukan justru lahir dari hal-hal yang sederhana. Dari teknologi yang mudah dijangkau, dari inovasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di sanalah kekuatan sesungguhnya terbentuk—perlahan, senyap, tetapi pasti. Jambi tidak hanya berpotensi menjadi lumbung produksi, tetapi juga pusat transformasi pangan. Dari teknologi sederhana menuju inovasi modern, dari potensi menuju kekuatan—jalan itu sudah terbuka. Tinggal satu hal yang menentukan: apakah keberanian untuk melangkah mampu mengikuti peluang yang telah tersedia.
Oleh:
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
(Guru Besar Universitas Jambi, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)