Metronews

BKSDA Jambi: Ruang jelajah spesies kunci di TNBT menyempit

0

0

jambidalamberita |

Sabtu, 28 Feb 2026 08:15 WIB

Reporter : Yudi

Editor : Yudi

Lanskap Bukit Tigapuluh di lokasi Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi di ambil dari udara. ist - (Jambidalamberita.id)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

Jambidalamberita.id, Jambi - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menyebutkan ekosistem penting di bentang alam Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) menyempit akibat aktivitas manusia.

Kondisi itu, berdampak terhadap berkurangnya ruang jelajah gajah sumatra, harimau maupun orangutan, serta meningkatkan potensi konflik manusia dan satwa liar yang dapat merugikan keberadaan dua belah pihak.

Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko melalui keterangan tertulis di Jambi, Jumat, mengatakan lanskap Bukit Tiga Puluh merupakan salah satu kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan di Provinsi Jambi.

Cakupan kawasannya meliputi dua kabupaten yaitu Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas kurang lebih 270 ribu hektare.

Baca Juga:

Ketua DPRD Jambi Desak Percepatan Jalan Khusus Batu Bara

Kawasan ini memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati dan menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah.

Ada sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah, 10 persen populasi harimau sumatera liar, serta orangutan sumatera yang hidup dan berkembang di lokasi habitat asli (reintroduksi) satwa.

Menurut dia, lanskap itu menjadi areal penting dalam pembangunan hutan tanaman industri, areal pengembangan perhutanan sosial dan berbatasan dengan areal-areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi lainnya.

Situasi tersebut mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat bagi spesies-spesies kunci dan ikonik Sumatera.

Ia menilai, diperlukan upaya bersama dalam perbaikan tata kelola lanskap agar dapat menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.

Baca Juga:

Zakat Fitrah 2026 di Kota Jambi Resmi Berlaku, Ini Besaran yang Harus Dibayarkan

Selain itu, mampu menjaga keberadaan satwa-satwa ikonik Sumatera ini dalam kondisi yang baik serta populasi yang stabil dalam jangka panjang.

Hanya saja, upaya itu membutuhkan peran ataupun kontribusi positif para pihak terutama pemerintah baik pusat dan daerah, penggiat konservasi dan sosial di tingkat lokal dan nasional, akademisi.

Kemudian pengelola areal di tingkat tapak baik perusahaan swasta maupun masyarakat di dalam dan sekitar lanskap tersebut.

Sumber :

1 2 3

# TAGS

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER