Jambidalamberita.id, JAMBI – Film Mantagi: Air dan Manusia hadir membawa napas segar bagi perfilman daerah dengan mengangkat kekayaan budaya Melayu Jambi melalui aliran Sungai Batanghari sebagai benang merah cerita.
Disutradarai oleh Taufik Hidayat Rusti, film ini memilih sejumlah wilayah yang dialiri Sungai Batanghari sebagai latar utama, mulai dari Kabupaten Kerinci di hulu, Kabupaten Merangin, Kabupaten Muaro Jambi, hingga Kabupaten Tanjung Jabung Timur di kawasan pesisir.
“Air menjadi simbol utama karena sungai bukan hanya penghubung geografis, tetapi juga pemersatu nilai budaya dan kesadaran masyarakat,” ujar Taufik saat pemaparan di Taman Budaya Jambi, Selasa (17/2).
Menurutnya, perbedaan bahasa, adat, dan kebiasaan masyarakat dari hulu hingga hilir dirangkai dalam satu narasi misteri dengan pendekatan visual spiritual. Tema besar “manusia dan air” dimaknai sebagai refleksi hubungan manusia dengan alam—baik secara ekologis maupun spiritual.
Film ini tidak menggurui dalam menyampaikan pesan lingkungan. Sebaliknya, penonton diajak merenung dan menafsirkan sendiri makna yang tersirat di balik adegan-adegannya.
Libatkan Warga Lokal dan Properti Asli Daerah
Produksi Mantagi turut melibatkan masyarakat setempat sebagai bagian integral dari cerita dan proses kreatif. Berbagai properti khas daerah digunakan langsung saat pengambilan gambar untuk memperkuat atmosfer budaya Melayu Jambi yang autentik.
Aktor asal Merangin, Ide Bagus Putra, mengungkapkan tantangan unik yang ia hadapi. Dalam film ini, ia memerankan dua karakter dalam satu sosok: Jamal dan representasi “hantu air”.
“Perbedaannya tipis, tapi penuh makna. Itu menjadi sindiran halus terhadap eksploitasi lingkungan,” ujarnya.
Selain Ide Bagus Putra, film ini juga dibintangi aktor-aktor lokal seperti Muhammad Husni Thamrin, Azhar MJ (Kerinci), Didi Hariadi (Tanjabtim), serta talenta dari Muaro Jambi seperti Ahmad Bayu Suwarnadwipa, Ainun Ja’ariyah, Iyaas Halim, Muhamad Sultan Al Fikri, Muhammad Al Wafi, dan Haris Mualimin.
Dengan balutan misteri, spiritualitas, dan kritik ekologis, Mantagi: Air dan Manusia bukan sekadar tontonan, melainkan ajakan reflektif tentang bagaimana manusia menjaga—atau justru merusak—sumber kehidupan yang mengalir sejak dulu di Tanah Jambi. (*)