Jambidalamberita.id, JAMBI – Siapa sangka, sebuah desa di Kabupaten Merangin mendadak mencuri perhatian nasional. Desa Tebat Patah resmi masuk jajaran lima besar penerima Apresiasi Desa Budaya 2025, sebuah penghargaan prestisius dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi Desa Tebat Patah dalam merawat, menghidupkan, dan mengembangkan budaya berbasis kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini.
Penetapan desa-desa terbaik ini merupakan bagian dari Program Pemajuan Kebudayaan Desa Tahun 2025, dengan acara puncak yang digelar di Huta Sinapuran, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Program tersebut dirancang untuk memperkuat posisi desa sebagai jantung kebudayaan nasional.
Menteri Fadli Zon menegaskan, desa penerima apresiasi dinilai berhasil menciptakan ekosistem budaya yang tidak hanya lestari, tetapi juga memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Mulai dari penguatan sosial, peningkatan ekonomi warga, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
“Budaya desa adalah fondasi penting pembangunan bangsa. Dari desa, identitas nasional itu tumbuh dan menguat,” ujar Fadli Zon.
Selain Desa Tebat Patah, empat desa lain yang turut meraih penghargaan bergengsi ini adalah Desa Cibaliung (Banten), Desa Duarato (Nusa Tenggara Timur), Desa Suak Timah (Aceh), dan Desa Tanjung Isuy (Kalimantan Timur).
Program Pemajuan Kebudayaan Desa sendiri telah berjalan sejak tahun 2021 dan terus berkembang. Pada 2025, tercatat 150 desa dari berbagai wilayah Indonesia terlibat, melanjutkan capaian sebelumnya yang telah menjangkau lebih dari 550 desa dari Sabang sampai Merauke.
Proses seleksi dilakukan secara ketat melalui tiga tahapan, yakni temu kenali, pengembangan, dan pemanfaatan, dengan melibatkan dewan juri dari berbagai disiplin keahlian. Penilaian difokuskan pada kemampuan desa mengelola kebudayaan sebagai sistem kehidupan yang berkelanjutan.
Melalui penghargaan ini, pemerintah berharap semakin banyak desa di Indonesia terdorong untuk menjaga warisan budaya sekaligus menjadikannya kekuatan dalam membangun jati diri, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat. (*)