Jambidalamberita.id – Kontroversi penilaian dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 menjadi sorotan publik setelah sebuah video final tingkat Provinsi Kalimantan Barat viral di media sosial.
Perdebatan mencuat setelah seorang peserta dinyatakan salah oleh dewan juri, meskipun jawaban yang disampaikan tim C2 dan B4 sama. Namun, jawaban dari tim C2 dinyatakan salah dan diberikan nilai -5, sementara jawaban tim B4 justru dinyatakan benar dan diberikan nilai 10.
Permasalahan utama dalam polemik ini terletak pada alasan juri yang menyebut jawaban peserta tidak dapat diterima karena artikulasi atau pengucapan dianggap kurang jelas.
Keputusan tersebut langsung menuai protes, terutama setelah jawaban yang sama justru dinyatakan benar ketika diberikan kepada tim lain.
Insiden tersebut memantik kritik luas dari masyarakat dan warganet yang menilai penilaian dalam lomba cerdas cermat seharusnya berfokus pada ketepatan substansi jawaban, bukan pada kualitas vokal atau kejelasan pelafalan peserta.
Banyak pihak mempertanyakan objektivitas dewan juri dalam mengambil keputusan. Tidak sedikit yang menilai keputusan tersebut mencederai semangat kompetisi yang menjunjung tinggi keadilan, transparansi, dan penghargaan terhadap kemampuan berpikir peserta.
Video momen kontroversial itu pun dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, memicu gelombang komentar dari publik, akademisi, hingga tokoh masyarakat.
Sebagian besar menyayangkan adanya standar penilaian yang dianggap tidak konsisten dan berpotensi merugikan peserta.
Akibat polemik yang semakin meluas, salah satu juri yang disebut dalam kontroversi tersebut, Indri Wahyuni, yang diketahui menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, dikabarkan telah dicopot dari posisinya.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk respons terhadap tekanan publik dan upaya menjaga kredibilitas penyelenggaraan lomba.
Tidak hanya itu, sejumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI juga turut angkat bicara.
Mereka meminta agar proses lomba dievaluasi secara menyeluruh, bahkan mengusulkan agar babak final diulang demi memastikan keadilan bagi seluruh peserta yang terlibat.