Di balik keberhasilan program ini, Bupati mengungkap fakta bahwa bantuan tersebut sempat terancam gagal akibat kondisi keuangan daerah yang terbatas.
“Program ini nyaris batal. Tapi kami sepakat, pendidikan tidak boleh dikorbankan,” kata M. Syukur di hadapan warga.
Sebagai alumni SMPN 5 Sungai Manau, Bupati mengaku memahami betul kondisi masyarakat kurang mampu karena berasal dari keluarga sederhana.
“Saya tidak mau anak-anak Merangin minder karena sepatu robek atau baju tak layak,” ujarnya.
Bupati juga memberikan instruksi khusus kepada Dinas Pendidikan agar anak-anak Suku Anak Dalam (SAD), khususnya di wilayah Sungai Manau Lama, mendapat prioritas bantuan dan wajib bersekolah.
“Siapa pun latar belakangnya, semua anak harus sekolah,” tegasnya.
Tak hanya bantuan fisik, Pemkab Merangin juga mendorong penguatan karakter siswa melalui:
Program shalat subuh berjamaah sebagai bagian evaluasi pendidikan
Pengawasan ketat penggunaan handphone dan media sosial oleh orang tua dan guru
Program ini diharapkan menjadi langkah nyata Pemkab Merangin dalam memastikan tidak ada anak tertinggal dari dunia pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi. (*)