Hasil analisis lanskap menunjukkan kawasan tersebut semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat maraknya perambahan di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat (
TNKS).
Manajer Program Komunikasi dan Informasi KKI Warsi, Rudi Syaf, menjelaskan bahwa pengolahan citra tiga dimensi memperlihatkan perubahan signifikan di kawasan penyangga taman nasional.
Area yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung ekosistem kini banyak beralih menjadi lahan garapan masyarakat.
“Pinggiran
TNKS sudah tidak lagi utuh. Tutupan hutan menurun drastis karena pembukaan lahan,” kata Rudi di Jambi, Selasa (13/1).
Menurutnya, aktivitas tersebut tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi menyebar luas mulai dari punggungan
Gunung Kerinci, Bukit Barisan bagian selatan, wilayah Solok Selatan di Sumatera Barat, hingga kawasan yang berbatasan dengan Bengkulu. Kondisi ini dinilai berbahaya, terutama bagi permukiman yang berada di daerah lembah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
KKI Warsi mencatat ratusan anak sungai berhulu di kawasan perbukitan
TNKS dan bermuara ke lembahan Kerinci hingga Danau Kerinci. Ketika hujan lebat terjadi, air dengan cepat melimpas ke wilayah padat penduduk.
“Banjir yang kerap terjadi bukan tanpa sebab. Hutan yang semestinya menyerap air justru berubah menjadi kebun,” ujarnya.
Selain alih fungsi hutan, KKI Warsi juga menemukan perambahan yang berkembang menjadi pemukiman, khususnya di perbatasan Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Bungo.
Aktivitas ini disebut melibatkan pendatang dari berbagai daerah.
Ancaman semakin serius dengan adanya pembukaan lahan untuk pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang diduga makin meluas di dalam kawasan
TNKS.
“Bukit-bukit yang seharusnya menjadi benteng terakhir kini rusak. Jika dibiarkan, banjir dan longsor hanya soal waktu,” tegas Rudi.
KKI Warsi mendorong adanya penanganan tegas dan kolaboratif agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas dan keselamatan masyarakat di sekitar
TNKS dapat terlindungi. (*)