Dalam setiap pembahasan mengenai kebakaran hutan dan lahan, istilah hotspot hampir selalu muncul. Peta yang dipenuhi titik merah, kuning atau hijau kemudian sering dipahami sebagai gambaran langsung mengenai kebakaran di suatu wilayah. Semakin banyak titik terlihat, semakin besar pula kesan bahwa kebakaran sedang meluas.
Cara membaca seperti ini memang mudah, tetapi secara metodologis perlu diluruskan. Hotspot bukan kebakaran. Hotspot adalah indikator awal yang menunjukkan adanya anomali panas yang terdeteksi oleh sensor satelit dan membutuhkan interpretasi lebih lanjut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa deteksi hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA-20, S-NPP, Terra dan Aqua.
Sensor tersebut mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya. Pengamatan dilakukan pada waktu tertentu ketika satelit melintas di suatu wilayah. Karena karakter tersebut, hotspot memberikan informasi mengenai lokasi indikasi panas pada saat pengamatan, bukan rekaman terus-menerus mengenai seluruh kejadian kebakaran di permukaan bumi.
BMKG juga menegaskan bahwa pada wilayah yang tertutup awan atau berada dalam blank zone, hotspot tidak dapat terdeteksi.
Konsekuensinya cukup penting. Satu hotspot tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai satu kejadian kebakaran yang telah terverifikasi.
Sebaliknya, tidak munculnya hotspot pada suatu lokasi juga tidak selalu berarti tidak terdapat sumber panas. Kemampuan deteksi sangat bergantung pada kondisi pengamatan. Tutupan awan, waktu lintasan satelit, karakteristik panas dan kemampuan sensor mempengaruhi apakah suatu anomali dapat tertangkap dan diidentifikasi.
Karena itu, angka hotspot pada satu waktu tertentu lebih tepat dibaca sebagai indikasi yang terdeteksi sensor yang dapat berubah dengan cepat, bukan sebagai sensus jumlah kebakaran.
Di sinilah perbedaan antara hotspot dan luas kebakaran menjadi fundamental. Jumlah titik panas menunjukkan indikasi lokasi yang perlu mendapatkan perhatian, sedangkan luas kebakaran membutuhkan proses analisis yang berbeda untuk menentukan area yang benar-benar terdampak.
Kedua informasi tersebut memiliki fungsi masing-masing. Mencampurkan keduanya dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru, terutama ketika jumlah titik panas langsung digunakan untuk menyatakan luas lahan terbakar.
Sistem pemantauan karhutla karena itu tidak berhenti pada satu jenis data. SiPongi Kementerian Kehutanan menyediakan informasi sebaran hotspot berdasarkan satelit dan tingkat kepercayaan, sekaligus menampilkan pemetaan lokasi titik panas.
Dalam panduan SiPongi, kategori warna digunakan untuk menunjukkan tingkat kepercayaan hotspot, hijau untuk rendah, kuning untuk sedang dan merah untuk tinggi. Artinya, bahkan di dalam data hotspot sendiri terdapat tingkat keyakinan yang berbeda terhadap hasil deteksi.